13

18

22/08/11

DIARE DAN KOSTIPASI


Definisi
Definisi dari diare dan konstipasi terus diperdebatkan selama beberapa tahun, terutama karena adanya definisi yang bervariasi mengenai pola normal perut. Kebanyakan dokter menganggap satu definisi saja tidak cukup efektif untuk menjelaskan masalah medis.
Para dokter biasanya menggabungkan dua aspek utama mengenai definisi konstipasi : (a) sulit BAB ( Buang Air Besar) (b) jarang BAB. Namun, pasien menggambarkan konstipasi dengan jarang sekali BAB, berkurangnya volume feses, kesulitan BAB, feses keras, luka pada saat BAB, perut terasa tidak enak karena feses tidak keluar semua, jarang ingin BAB.
Definisi diare lebih mengarah ke konsistensi daripada konstipasi. Umumnya, diare identik dengan adanya tiga atau lebih gerakan tak beraturan per hari pada usus besar yang disertai dengan gejala demam, kejang perut atau mual. Lebih jauh, diare digambarkan dengan meningkatnya  kondisi berat dan keenceran feses yang tidak normal. Parameter objektif untuk diare akut adalah terjadi ekskresi cairan feses lebih dari 150-200 ml setiap   24 jam.

Fisiologi Usus Normal
Tiga aspek utama fungsi perut terdiri dari : absorpsi kolon, motilitas kolon dan reflek defekasi (BAB).
Dalam satu hari, volume cairan yang masuk ke dalam duodenum pada orang yang makan tiga kali sehari adalah sebanyak 9 liter. Kira-kira 8 liter sehari diserap oleh usus kecil di mana 1 – 1,5 liter diantaranya masuk ke dalam kolon. Kolon menyerap 0,9 – 1,4 liter per hari (90%). Kapasitas  daya serap kolon melebihi kapasitas  daya serap usus kecil yang hanya menyerap 75% cairan. Pengeluaran feses per hari kurang dari 200 ml, yang mengandung 5 mEq sodium dan 8 mEq potasium.
Motilitas kolon terdiri atas 3 pola kontraksi otot yang dikontrol oleh sistem syaraf otonomi, yaitu : (a) kontraksi segmen nonpropulsif, yang mencampur isi lumen ;                 (b) kontraksi propulsif segmen pendek, yang mendorong dan menarik  isi lumen untuk membantu penyerapan ; dan (c) kontraksi propulsif segmen panjang, yang mendorong jauh isi lumen. Keinginan  untuk BAB terjadi jika lambung terasa penuh  dan peningkatan aktivitas fisik  memicu refleks gastroenterik untuk menimbulkan gerakan peristaltik yang hebat. Feses terdorong ke dalam kolon sigmoid menuju rektum, menimbulkan rasa ingin BAB. Hal ini lebih sering terjadi setelah selesai sarapan.
BAB dimulai saat rektum menggelembung karena feses. Biasanya, rektum bisa membedakan gelembung yang ditimbulkan oleh cairan, kentut, atau feses, karena adanya refleks BAB. Pengosongan p
erut terjadi setelah otot dubur mengalami relaksasi internal dan eksternal sehubungan dengan kontraksi segmen rektosigmoid dan peningkatan tekanan pada perut bagian dalam. Relaksasi yang disengaja dari otot dubur eksternal  memungkinkan terjadinya pengosongan perut. Sebaliknya, kontraksi otot dubur yang
disengaja bisa menghentikan BAB.

Diagnosa dan Penemuan Klinis
Konstipasi
Diagnosa konstipasi untuk mendapatkan sejarah kesehatan yang lengkap memerlukan kerja sama antara pasien dengan dokter. Keterangan pasien mengenai fungsi perut yang normal harus jelas untuk menentukan adanya perubahan kebiasaan. Dimulainya dan lamanya konstipasi, gambaran BAB, dan adanya gejala lain, termasuk informasi yang diperlukan. Pengobatan harus ditentukan, terutama laksatif OTC. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan bagian perut, pemeriksaan digital pada rektum, dan proktosigmoidoskopi.  Suntikan barium harus diberikan pada pasien kostipasi kronis dan pada pasien yang mempunyai sejarah konstipasi untuk menentukan apakah terjadi kesulitan  atau tidak.
Diare
Diagnosa diare memerlukan sejarah kesehatan dan  pemeriksaan fisik yang cermat. Termasuk penjelasan dari pasien mengenai lamanya diare, gambaran BAB (konsistensi, warna, bau, ada tidaknya BAB melanik), frekuensi gerakan dalam usus besar, gejala yang berkaitan, dan kelainan-kelainan lainnya. Perbedaan diare dengan feces yang banyak dan diare dengan feces sedikit membantu menentukan  apakah kelainan-kelainan itu terjadi pada usus kecil atau kolon proksimal atau kolon kiri dan rektum.
Beberapa tanda dan gejala diare : Pendarahan saat BAB umumnya menandakan adanya luka, infeksi atau  penyakit neoplastik Luka atau infeksi dapat dideteksi dengan keluarnya nanah atau cairan saat BAB. Infeksi yang disebabkan  oleh Shigella ditandai dengan  adanya darah bercampur lendir tak berbau. Infeksi karena Salmonella dan Escherichia pada bayi biasanya ditandai dengan BAB yang disertai “sup” hijau. Keluarnya lendir tanpa darah menunjukkan gejala iritasi usus besar, terutama jika dihubungkan dengan diare dan konstipasi yang tidak teratur. Keluarnya feses yang berlebihan dan diare malam hari disebabkan karena tidak berfungsinya otot rektum dan masalah pada persyarafan. Tanda-tanda diare  juga bisa ditemukan pada pasien yang ingin menurunkan berat badan.
Agen Farmakologis
Berbagai pengobatan, baik obat-obatan maupun OTC, diberikan untuk menghilangkan gejala diare. FDA telah mengevaluasi kembali keamanan dan keefektifan produk OTC untuk diare. Pada tahun 1975, Dewan Pemeriksa dan Penasehat untuk Produk Obat Pencahar OTC, Obat Antidiare, Obat Emesis (pembuat muntah) dan Antiemesis, memeriksa kembali beberapa produk obat untuk keamanan dan keefektifannya. FDA mengevaluasi rekomendasi dari Dewan tersebut dan pada tahun 1986 memutuskan bahwa obat-obatan tersebut diragukan keamanan dan keefektifannya. Pada tahun 1990, status agen-agen ini diinformasikan kembali dengan menuliskan  daftar kandungan OTC yang tidak aman dan tidak efektif untuk diare. Akhirnya, produk OTC yang dianggap aman dan efektif untuk mengobati diare adalah attapulgite, polikarbofil, dan loperamida.
Attapulgite adalah magnesium aluminium  silikat, yang secara alami mengeluarkan air, menyerap kira-kira 8 kali berat air karena daerah permukaannya yang luas. Zat penyerap ini  mengurangi keenceran feses. Dengan attapulgite, efek sampingnya berkurang karena tidak diserap secara teratur. Obat ini diminum pada saat gejala pertama muncul, dan dosisnya dikurangi setiap selesai BAB.
Polikarbofil sudah lama digunakan dalam pengobatan diare dan konstipasi.  Polikarbofil adalah resin poliakrilik hidrofilik yang memiliki zat penyerap seperti attapulgite. Karena tidak diserap secara sistemik, efek samping sistemik bisa dihindari. Rasa sakit pada daerah perut dan kembung adalah gejala biasa. Pemakaian obat sehari penuh dalam dosis rendah bisa menghilangkan rasa kembung.  Untuk pasien diare  dianjurkan mengurangi pemasukan cairan.
Loperamida, sejenis meperidin sintetis, bisa menurunkan motilitas gastrointestinal karena efeknya pada otot usus longitudinal dan sirkular. Penetrasi CNS dari obat tersebut minim, tetapi tidak memperpanjang efek samping CNS sehubungan dengan penggunaan sejenis opium dalam dosis normal.
Loperamida menghilangkan gejala diare akut yang tidak spesifik dan efektif dalam pengobatan diare traveler (TD) non disentri. Dosis awal loperamida diberikan sebanyak       4 mg, kemudian dikurangi menjadi 2 mg setiap BAB dan tidak melebihi 8 mg selama 24 jam. Dosis awal attapulgite adalah 3 g, kemudian bertambah menjadi 6 g setiap kali selesai BAB dan dosis maksimumnya adalah 9 g dalam 24 jam. Pada interval 12 jam pertama dan kedua pemberian loperamida, jumlah rata-rata feces yang keluar lebih sedikit. Tapi, setelah pemberian loperamida berikutnya, perbedaan tidak begitu kentara selama durasi diare bebas.
Loperamida  juga bisa mengakibatkan sakit perut, konstipasi, ngantuk, lelah, mulut terasa kering, mual dan muntah. Dosis penggunaan OTC untuk orang dewasa tidak boleh lebih dari 8 mg / hari, tetapi dosis maksimum 16 mg / hari masih diperbolehkan asal dengan pengawasan dokter. Anak-anak di bawah umur 6 tahun tidak dianjurkan meminum loperamida kecuali atas perintah dokter. Jika setelah 48 jam tidak ada perubahan, pemakaiannya harus dihentikan.
Jenis morfin lainnya seperti kodein, sejenis meperidin , dan difenoksilat, bisa dipakai untuk mengobati diare. Dengan dosis 15 – 30 mg yang diminum setiap  6 jam, kodein dapat mengurangi frekuensi BAB. Akan tetapi, penggunaannya dibatasi karena sudah tersedia obat-obatan non narkotik.untuk mengobati diare. Difenoksilat yang bekerja seperti morfin pada otot halus usus, penggunaannya dikombinasikan  dengan atropin sulfat dengan dosis 2,5 mg-5mg. Tidak seperti loperamida, difenoksilat potensial menimbulkan euphoria dan menekan gejala yang timbul karena dihentikannya penggunaan opium dosis tinggi. Oleh karena itu, penyalahgunaan bisa terjadi jika difenoksilat digunakan tanpa dibarengi atropin sulfat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

09